Revolusi bukan identik pertumpahan darah

NN – TEBING TINGGI Presiden RI Joko Widodo yang memilih kata Revolusi mental, bukan berarti identik dengan pertumpahan darah, tetapi merupakan pergerakan mengubah secara drastis, dari sikap manusia Indonesia yang malas membaca jadi gemar membaca’

Hal ini disampaikan Walikota Tebing Tinggi H.Umar Zunaidi Hasibuan dalam Safari Gerakan Pembudayaan Kegemaran Membaca Kamis (15/3) di RM.Pondok Bagelen dihadiri Anggota Komisi X DPR-RI dr.Sofyan Tan dan Lucya Damayanthi Dir.Deposit Bahan Pustaka Perustakaan Nasional serta Kadis Perpus Provsu Berlin Nainggolan.

Disampaikan Walikota, harapan presiden tersebut agar semua elemen masyarakat di Inonesia ini bergerak bersama-sama untuk menjadikan bangsa Indonesia yang gemar membaca, seperti yang termaktub dalam thema kegiatan ini Implementasi Revolusi mental melalui mobilisasi pengetahuan dalam rangka meningkatkan indeks literasi masyarakat.

Dengan banyak membaca manusia akan banyak memperoleh ilmu pengetahuan dan menjadi manusia itu cerdas, dari ilmu kesehatanpun orang yang rajin membaca tersebut kecenderungannya jauh dari kondisi pikun meskipun sudah berusia lanjut.

Dan di Tebing Tinggi sendiri Pemerintah Kota sudah mengeluarkan tentang peraturan wajib baca bagi anak-anak SD, dan dengan sarana dan prasarana yang dimiliki Perpustakaan umum Kota Tebing Tinggi sudah mampu menjangkau sampai kepelosok kampung, dengan harapan warga Tebing Tinggi menjadi warga yang pintar dan cerdas.ujarnya.

Disampaikan Walikota pula banyak anggota DPR-RI yang berasal dari sumut, tetapi sedikit yang punya perhatian kedaerahnya seperti yang dilakukan anggota DPR-RI Sofyan Tan dari Komisi X, yang sangat besar perhatian terhadap Kota Tebing Tinggi.

Banyak hal yang sudah dilakukannya seperti membantu pengadaan mobil perpustakaan digital keliling, bantuan buku dan memilih Kota Tebing Tinggi sebagai tempat gerakan membaca, dan memilih Tebing Tinggi untuk kampanye, tapi Sofyan Tan tau Tebing Tinggi ingin maju,katanya.

Sementara Direktur Deposit Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional Lucya Damayanti mengatakan berdasarkan nilai tingkat literasi, Indonesia masih di peringkat 60 dari 61 negara.

Konten yang sering dibuka di handphone masih game, bukan membaca buku. Pembaca media sosial masih game yang tertinggi. Yang baca buku masih 3%,” ujarnya.

Menurutnya harus diakui mayoritas masyarakat belum menjadikan gemar membaca sebagai kebutuhan dan kegemaran hidup. Untuk itulah melalui promosi ini diharapkan dapat membangun kesadaran tersebut.

Khusus untuk Tebing Tinggi saya salut dari kegiatan ini yang dimulai sejak 08.00 pagi sampai berakhirnya acara ini tidak satupun dari ratusan peserta yang meninggalkan ruangan ini, ini merupakan yang terbaik selama safari gerakan pembudayaan kegemaran membaca, katanya.-(DR01)

Facebook Comments