Dua Bayi Orangutan Sumatra Disita BB TNGL dari Pemburu Satwa Liar

DALAM KANDANG: Dua bayi Orangutan Sumatra atau Pongo abelli, ditempatkan dalam kandang saat diistirahatkan di kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser di Medan.(Foto: Nusantaranews)
DALAM KANDANG: Dua bayi Orangutan Sumatra atau Pongo abelli, ditempatkan dalam kandang saat diistirahatkan di kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser di Medan.(Foto: Nusantaranews)

MEDAN ~Nusantaranews~ Dua bayi Orangutan Sumatra atau Pongo abelli, disita Petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser dari seorang tersangka pemburu satwa liar di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Kamis (9/1/2020) sekitar pukul 19.45 WIB. Namun tersangka pemiliknya tak berhasil ditangkap.

Selama proses pelidikan, keduanya  dirawat di Pusat Karantina dan Rahabilitasi Orangutan Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Petugas menduga induk bayi orangutan ini telah mati terbunuh sebelum anaknya diambil.

Setelah dilakukan penyitaan, dua bayi Orangutan Sumatra atau Pongo abelli, Jumat (10/01/2020) pagi tiba di kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Jalan Selamet, Medan Amplas, Medan, Sumatera Utara.

Dari dua bayi orangutan yang disita, satu individu berkelamin jantan dengan umur sekitar dua tahun. Satu bayi orang utan lagi berkelamin betina dengan umur sekitar satu tahun. Keduanya dalam keadaan sehat dan satu diantaranya masih terlihat liar.

Kedua bayi orangutan disita petugas Balai Taman Nasional Gunung Leuser dari rumah pemiliknya berinisial  R (39)alias IG di Dusun Kwala Nibung, Desa Pula Rambung, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Kamis, Pukul 19.45 WIB. Bayi orangutan disimpan pemiliknya dalam kandang plastik.

Petugas juga menemukan foto tersangka menggendong orangutan yang diperoleh di media sosial, serta sejumlah barang bukti lainnya, sehingga menduga pelaku merupakan pemburu jaringan perdagangan satwa liar.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Jefry Susyafrianto menjelaskan, penyitaan orangutan diawali informasi dari masyarakat. “Kemudian tim berangkat untuk menemukan adanya 2 bayi orang utan, saying kita tidak dapat pelakunya, yang diduga merupakan jaringan dari beberapa fakta yang ada video dan foto,” tambahnya.  Saat ini 2 bayi orang utan yang satu, satu tahun yang satu lagi 2 tahun, ini perempuan dan laki, betina yang 1 tahun yang 2 tahun, jantan.

Guna proses penyidikan, kasus kepemilikan dua bayi orang utan ini dilidik balai pengamanan dan  penegakan lingkungan hidup dan kehutanan sumatera. Petugas akan segera melakukan olah tempat kejadian perkara. Termasuk memburu pemburu dan pemilik dua bayi orangutan ini.

Balai Pengamanan Dan  Penegakan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK) Wilayah Sumatera, Haluanto Ginting mengatakan,  tersangka belum ditemukan. “Baru berupa barang bukti, ini tahapan untuk evekuasi dalam rangka penyidikan, termasuk olah TKP, dan kita lihat polanya seperti apa, identitas udah dimiliki, R, baru tadi malam diterima. Akan tetap berkordinasi balai TNGL karena mereka yang menangkap, dan mengungkap kasus ini, apkah ini jaringan, maka kita ungkap seperti apasih,” jelasnya.

Pegiat lingkungan dan pelestari orangutan sumatra, bersyukur dengan digagalkannya perdagangan orangutan sumatera. Merkea juga prihatin masih ada pelaku yang memburu dan memperdagangkan orang utan, yang mengancam populasi satwa terancam punah ini. Apalagi memiliki dua bayi orangutan, diyakini pemburu telah melukai atau membunuh induknya.

Ketua Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Centre  Panut Hadisiswoyo menjelaskan, selama ini 10-15 orang utan yang disita atau diserahkan oleh masyarkat. “Artinya itu yang dapat diselamatkan, artinya ada kecolongan, informasi ini berpikir positif dan shok karena masih ada terus menerus, karena orangutan mamalia yang berkembang biak sangat lambat. Dengan adanya pengambilan individu betina yang terambil atau mati atau punah karena pengambilan bayi atau diburu, itu akan berpengaruh karena orangutan harus menyapi atau melatih anaknya sampai umur 6-8 tahun, satu individu dapat hasilkan 3-4 ekor, satu saja diambil akan mempengaruhi keseluruhan populasi keseluruhan. Karena induk orang utan tidak akan pernah mau melepas anaknya dalam kondisi apapun,  kecuali memang ada pemaksaan melukai atau membunuh induknya, kami memastikan induk mati,” tambahnya.

Guna merawat bayi orangutan yang masih belum disapi induknya ini, keduanya dibawa ke pusat karantina dan rahabilitasi orangutan batu mbelin, sibolangit, deli serdang, yang dikelola yel-socp bersama dengan balai besar ksda sumatera utara. Diharapkan setelah punya kemampuan bertahan hidup di alam, kedua bayi orangutan akan segera dilepasliarkan di habitatnya, kawasan taman nasional gunung leuser. (AS)

Facebook Comments